Selasa, 05 Oktober 2010

Dewa Judi di Piala Dunia

gama blog
Gelaran Piala Dunia 2010 (World Cup) di Afrika Selatan yang berlangsung dari tanggal 11 Juni hingga 11 Juli 2010 bukan hanya membuat banyak orang bergadang, tetapi juga membuat orang-orang yang gemar bertaruh sibuk membaca prediksi skor atau juara di setiap pertandingan, untuk kemudian mempertaruhkan uangnya dalam arena perjudian bola atau bertaruh sesama teman.
Sudah bukan rahasia lagi kalau laga sepak bola dan beberapa cabang olah raga lainnya, seperti Motor GP, Formula 1, Balap Kuda, dan lain-lain menjadi ajang judi internasional. Dengan kemajuan teknologi internet saat ini transaksi perjudian semakin dipermudah, dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Judi adalah salah satu penyakit masyarakat (pekat) yang dilarang oleh perundang-undangan (KUHP Pasal 303 dan UU RI No.7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian) dan harus diberantas, karena dampak judi bisa merusak kehidupan seseorang secara ekonomi dan psikologi. Judi membuat pelakunya kecanduan, dan akhirnya akan menghabiskan harta benda miliknya, sampai berujung kepada kehancuran kehidupan rumah tangga, atau berlanjut kepada kejahatan lainnya seperti penipuan, pencurian, perampokan, kejahatan narkoba, dan lain-lainnya untuk memperoleh uang berjudi.

Di dalam hukum Islam judi merupakan dosa besar yang harus dijauhi oleh setiap orang beriman. Seperti firman Allah Swt dalam Alquran (Surah Al-Maidah : 90-91)
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.  Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
Namun betapa pun jahatnya judi merusak kehidupan manusia, ternyata perkembangan judi di dunia lebih hebat dari infeksi virus komputer dan lebih marak dari penyebaran video mesum. Di berbagai belahan dunia, bisnis judi merupakan bisnis beromzet sangat besar.
Bayangkan saja, empat orang tersangka bandar judi bola secara online internet yang berhasil dijaring oleh jajaran Polwiltabes Surabaya selama Piala Dunia ini beromzet sampai Rp 1,5 milyar per hari! Itu untuk tiga pertandingan Piala Dunia yang digelar dalam sehari. (www.surya.co.id, 21 Juni 2010).
Tadi baru empat bandar di Surabaya, bagaimana dengan bandar-bandar yang beroperasi di Jakarta, di kota-kota lain di Indonesia, atau di seluruh dunia. Jangan-jangan omzetnya melebihi pinjaman Bank Dunia dan IMF untuk negara-negara miskin digabungkan menjadi satu. Dan itu juga baru Piala Dunia 2010 ini, belum lagi judi lotere, kasino-kasino, balapan kuda, sampai judi togel atau kupon putih.

Dewa-dewa judi
Kenapa manusia suka berjudi? Ternyata hal itu tidak terlepas dari budaya yang berkembang sejak dulu, di mana berjudi dan ramal-meramal merupakan dua hal yang saling berkaitan di dalam kultur kebanyakan bangsa. Peramalan adalah ilmu memprediksi masa depan atau kejadian yang belum terjadi, sedangkan judi adalah salah satu praktek atau pilihan tindakan atas hasil ramalan tadi. Sedangkan pilihan tindakan lainnya seperti penggunaan ramalan dalam dunia bisnis, percintaan dan kegiatan yang tidak mempertaruhkan uang lainnya seringkali disebut berjudi juga, atau tindakan untung-untungan, atau berjudi nasib.
Peradaban Mesir Kuno mengenal Dewa Toth sebagai dewa pengobatan, penemu tulisan dan hakim agung yang menciptakan dewa judi. Sedangkan di India tercatat dalam epik Mahabharata yang berasal 1500 SM yang memiliki cerita utama yang dimulai dengan undian dadu. Orang-orang yang berasal dari keluarga yang berbeda di kerajaan bersaing untuk mendapatkan tahta. Karena tidak tercapai kesepakatan akhirnya harus dilakukan pengundian dengan dadu.  Permainan ini kemudian menjadi tidak jujur dan hal ini mungkin mendasari ditemukannya dadu.  Salah satu peserta undian kalah, dan kehilangan semua harta kerajaan termasuk istrinya.
Di dalam budaya Yunani diakui adanya hubungan antara judi dan peramalan. Hubungan ini diwujudkan pada tokoh dalam mitologi Yunani bernama Palamedes yang dikenal sebagai penemu dadu, berbagai bentuk ramalan, serta perjudian dengan abjad dan angka.  Palamedes (berasal dari kata palm) mempunyai keahlian memanipulasi dunia, kecerdasan yang licik yang disebut dalam bahasa Yunani, Metis. Kebudayaan Yunani inilah yang diwarisi oleh peradaban Barat pada masa kini, sehingga budaya bermain judi dikembangkan di Eropa dan Amerika.
Meski tidak ada sosok mitologis tertentu yang menghubungkan dengan tradisi judi di Cina, namun asal-usul struktur Yi Jing memberikan gambaran bahwa bentuk trigram dan heksagram yang pada awalnya dibangun dari manipulasi angka-angka dibuat dengan tujuan untuk peramalan. Selain itu bentuk heksagram juga dipergunakan untuk perhitungan aritmatika dan, menurut Sunzi, untuk menghitung keseimbangan kekuatan pasukan militer.  Jadi manipulasi heksagram ini dengan cerita asal-usulnya digunakan bersama-sama dengan bidang ramalan, angka, kosmologi dan tulisan. Bukti-bukti ini ditemukan pada makam, yang menunjukkan bahwa peramalan dengan Yi Jing juga terkait dengan perjudian.
Latar belalakang mitologis dan budaya ini mungkin menjadi sebab perjudian di wilayah Asia pada umumnya berkaitan erat dengan kultur etnik Cina di manapun mereka tinggal. Perjudian tradisi Cina ini termasuk yang tidak ada duanya di dunia. Judi dalam budaya Cina adalah bagian dari peribadatan kepada dewa-dewa.
Mitos Dewa Judi (Gods of Gambler), yakni seseorang yang memiliki kemampuan supranatural dalam memenangkan pertaruhan di meja judi, berkembang di masyarakat Cina dan sering dijadikan tema dalam film-film yang diproduksi di Hongkong.

Judi bukan jalan untuk meningkatkan perekonomian negara
Judi dengan berbagai bentuknya harus diberantas, bagaimana pun hebatnya endemik judi tersebut. Upaya untuk melegalisasi perjudian bukanlah merupakan jalan keluar yang baik. Berkompromi dengan kemungkaran hanya akan menimbulkan ekses yang lebih berbahaya terutama bagi bangsa kita yang sangat rapuh pertahanan budaya dan agamanya.
Kita tidak bisa mencontoh kebijakan Pemerintah Malaysia yang memberi ijin operasional kasino di Genting Highland. Lokasi perjudian yang dirintis oleh Tan Sri Lim Goh Tong, seorang pengusaha Cina, pada 1965 ini sempat diprotes warganya, tapi kemudian berdasarkan UU Perjudian Malaysia secara tegas menyatakan kawasan judi ini hanya untuk nonmuslim di Malaysia, maka keberadaan tempat ini tak lagi dipersoalkan.
Kasino di Genting Highland ini sekarang dimiliki oleh Lee Kim Hua. Pria berusia 80 tahun pemilik Genting Gorup ini sekarang memiliki kekayaan hingga USD3,9 miliar, dan tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Malaysia. Dia baru saja menginvestasikan dana sebesar USD 5 miliar untuk membuka kawasan judi dan kasino baru di Singapura.  Kasino di Genting Highland ini telah ikut andil memulihkan perekonomian Malaysia hingga pertumbuhan ekonominya mencapai 10 persen pada kuartal pertama tahun 2010, suatu angka pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Namun sangat ironis dengan kondisi Malaysia yang dikenal sebagai negara dengan mayoritas warganya adalah suku Melayu Muslim yang taat beragama, ternyata menarik pajak dari bisnis perjudian untuk digunakan dalam membangun negara, termasuk menggaji para pegawai pemerintahnya.

0 komentar:

Posting Komentar

KELUARAN TOGEL

Blogroll